Rabu, 25 Agustus 2010

Francisca Fanggidaej

Francisca Fanggidaej adalah seorang perempuan Rote kelahiran NoEl Mina, Timor, NTT tahun 1925. Ayahnya bernama Gottlieb Fanggidaej, seorang pegawai tinggi Hindia Belanda dan ibunya adalah Magda MaEl, seorang ibu rumah tangga.  Ia adalah salah satu dari para eksil Indonesia yang terhalang kembali ke Indonesia karena meletusnya peristiwa 30 September 1965. Baru pada tahun 2003 ia bisa kembali ke Indonesia dan bertemu keluarganya setelah 40 tahun hidup di pengasingan. Kini ia tinggal di Belanda dan menjadi anggota Komite Indonesia Belanda dan adalah salah satu pendiri Stichting Azië Studies (Yayasan Studi Asia).

Berjiwa Pemimpin
Barangkali tidak banyak yang mengenal sosok perempuan ini di Indonesia. Namun, dia adalah seorang sosok perempuan yang disegani dan dan turut ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan dan pembangunan kebangsaaan (nation building) Indonesia di era awal kemerdekaan. Bakat kepemimpinannya sudah nampak semenjak dia masih muda. Pada tahun 1945 ia terpilih sbagai wakil Pemuda RI untuk mengikuti konggres Pemuda Indonesia pertama di Yogyakarta. Ketika konggress selesai, ia tak segera kembali ke Surabaya karena terjadi pertempuran antara rakyat Surabaya melawan pasukan NICA. Ia kemudian bergabung dengan Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo) serta aktif melakukan kampanye kepada rakyat tentang makna kemerdekaan dan kolonialisme.  Ia pun sangat aktif dalam Badan Konggres Pemuda Republik Indonesia (BPKRI) yang salah satu tugasnya adalah melakukan siaran radio Gelora Pemuda di Madiun dalam bahasa Belanda dan Inggris yang bertujuan untuk mengangkat pendapat orang Indonesia sendiri tentang kemerdekaan dan kolonialisme.
Francisca muda juga banyak mendapat kesempatan dalam event-event internasional. Antara lain, selama Juli-Agustus 1947, ia menghadiri Festival Pemuda Sedunia I di Paraha, Chekoslowakia dan menjadi anggota Panitia Persiapan Konperensi Pemuda dan Pelajar Asia di Calcutta, India. Pada February 1948, dia menghadiri Konperensi Kalkuta. Peserta konperensi yang berasal dari Asia Barat, Timur, Selatan dan Tenggara tersebut berhasil mengeluarkan resolusi yaitu mengutuk Amerika Serikat dan seruan untuk melawan imperialisme
Tak lama setelah ia kembali, meletus pergolakan politik di Madiun yang disebut Peristiwa Madiun 1948.  Pada saat itu tejadi penangkapan dan pembunuhan besar-besaran ribuan orang yang dianggap beraliran komunis, termasuk suami pertamanyanya, Soekarno, yang adalah Ketua Badan Penerangan DPP PESINDO.  Francesca sendiri dikejar-kejar dan dipenjarakan dengan tuduhan membawa blue print pembrontakan Madiun dari Calcutta.
Selanjutnya, karier Francisca semakin bersinar terang. Diantaranya ia pernah menjadi anggota DPR mewakili wartawan tahun 1957 dan menjadi penasihat Presiden Soekarno dalam kunjungan ke Aljazair tahun 1964. Tahun 1960an, ia beberapa kali ke Kuba dan sempat bertemu dengan Fidel Castro. Pada 18 September 1965, ia berangkat ke Cili untuk Konggres Organisasi Jurnalis Sedunia. Namun, ia dilarang kembali ke Indonesia oleh pemerintah, disusul dengan pencabutan paspor dan hak WNI-nya. Akhirnya ia hidup sebagai eksil di Cina selama dua puluh tahun dan pindah ke Belanda sejak tahun 1985.



Belajar dari Sejarah Masa Lalu
"Sekarang saya hanya ingin hak politik dan sipil sebagai warga negara Indonesia dipulihkan. Saya hanya ingin hidup tanpa rasa takut dikejar, dibunuh atau dipenjara”. Ungkapan yang disampaikan dalam pertemuan dengan Yustril I. Mahendra, Menteri Hukum dan Perundang-Undangan Indonesia di Den Haag tahun 2000. Ini adalah salah satu ungkapan hati dari mereka yang tak bisa kembali ke Indonesia karena dituduh mendukung paham komunis di era 60an. Ada sekitar 579 eksil yang terhalang pulang ke Indonesia yang tersebar di daratan Eropa.

Sebagai seorang saksi hidup sejarah, Francisca masih terus berjuang untuk meluruskan sejarah yang masih tersembunyi. Tentang sikapnya terhadap sejarah, dia pernah berkata dalam sebuah sarasehan di Diemen, Belanda tahun 2002: “Memenangkan perjuangan politk, tergantung pada siapa yang menguasai masa lampau sebagai senjata ampuh, dan untuk kepentingan mana dan siapa makna masa lampau itu digunakan. Saya yakin bahwa generasi muda Indonesia dan generasi-generasi berikutnya yang memihak rakyat dan kepentingan massa rakyat di desa dan kota, akan mampu mengambil dengan tepat hikmah dari sejarah masa lampau dan pengalaman generasi tua – yang positif maupun yang negatif – untuk meneruskan perjuangan demi satu Indonesia yang lebih adil, bahagia dan damai.” 
Buku tentang Francisca Fanngidae: 












3 komentar:

  1. Saya sangat bangga dengan pribadi Francisca Fanggidaej. Sebagai perempuan, kuat dalam menjalani kehidupannya yang tidak mudah.

    Pengalaman hidup beliau menjadi panutan bagi saya pribadi dalam menjalani hidup.

    Ruthantien D. Simson

    BalasHapus
  2. ayahnya adalah penerjemah injil ke dalam bahasa Rote, jauh sebelum Indonesia merdeka. James Fox menyebutkan dalam Harvest of the Palm.

    BalasHapus
  3. Sbg orang NTT, saya bangga sekali karena NTT pernah memiliki seorang Francisca Fanggidaej yang konsisten dengan perjuangannya. NTT pantas berduka atas kepergian sang pahlawan sejati ini ...

    BalasHapus