Senin, 16 Agustus 2010

Patriarkhi


Adalah struktur masyarakat yang sistimatis yang melembagakan kekuasaan laki-laki secara fisik, sosial dan ekonomi atas perempuan. Sejumlah feminis menggunakan konsep patriarki untuk menjelaskan subordinasi atas perempuan yang sistimatis baik oleh struktur makro maupun lokal. Struktur-struktur ini menguntungkan laki-laki dengan menghalangi pilihan-pilihan dan kesempatan-kesempatan dalam hidup perempuan.
Ada banyak interpretasi yang berbeda tentang patriarki. Namun demikian, akar dari patriarki sering didasarkan pada peran reproduktif perempuan dan kekerasan seksual, dikaitkan dengan proses-proses ekploitasi kapitalis. ‘Lokasi utama’ terjadinya penindasan patriarki adalah pekerjaan rumah tangga, pekerjaan yang dibayar, negara, budaya, seksualitas, dan kekerasan. Tindakan-tindakan yang mendiksriminasikan perempuan oleh sebab peran gender mereka dipandang sebagai ‘praktik-praktik’ patriarkal; misalnya pembagian pekerjaan, pelarangan dan pembayaran yang tidak seimbang.
Konsep patriarki telah dimasukkan dalam pengembangan teori gender dan pembangunan; dalam rangka untuk menantang tidak hanya relasi gender tetapi juga relasi kapitalis yang tidak seimbang, yang seringkali dipandang sebagai pondasi dari patriarki. (Mies, 1986; DAWN, 1995).
Para feminis yang menjeladkan ketidaksetaraan gender terkait dengan patriarki sering menolak struktur sosial dan praktik-praktik yang didominasi oleh laki-laki dan mengajukan otonomi perempuan yang lebih besar atau bahkan pemisahan sebagai strategi. Dalam beberapa pandangan, perempuan dilihat perlu mempunyai ruang untuk melakukan manufer dalam sistim patriarki yang mengekang dengan melakukan negosiasi ‘kontrak patriarki’ dengan laki-laki. Ini akan menghasilkan suatu perubahan pada otonomi perempuan, dan tanggung jawab laki-laki terhadap istri dan anak-anak.
Teori yang berlebihan tentang kekuasaan laki-laki bisa menolong untuk mengkonsepsikan sejauhmana ketidaksetaraan gender terjadi tetapi bisa juga gagal untuk mengkonsepsikan ketidaksetaraan gender yang kompleks.
Ada kecenderungan yang memandang bahwa penindasan gener bersifat sama dalam lintas waktu dan tempat. Pemikiran yang terbaru telah menolak konsep seperti itu, dengan menindetifikasikan kebutuhan akan analisis historis dan budaya yang lebih detail untuk memahami ketertindasan karena perbedaan gender. Karena perempuan bukanlah sebuah kelompok yang homogen yang dihambat dengan cara-cara yang serupa. Ketidaksetaraan gender juga dipengaruhi olej ketidaksetaraan sosial yang lain berdasarkan kelas, kasta, etnisitas, dan ras, yang mungkin lebih diprioritaskan lebih dari keprihatinan gender pada suatu konteks tertentu. Konsep patriarki yang kaku dan umum tidak memperhitungkan ruang perempuan untuk melakukan perlawanan dan strategi untuk perubahan. Diperlukan suatu analisis yang sedikit berbeda yang memperhitungkan perbedaan dan kekompleksan serta agensi dari perempuan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar